Senin, 17 Februari 2020

Belajar Adab

Bagaimana Cara Belajar Adab dan Akhlak?


Sebelumnya, apa sih bedanya adab dan akhlak?
Adab merupakan hal yang lebih luas daripada akhlak. Akhlak merupakan kondisi jiwa seseorang yang mana ia akan melakukan sesuatu secara refleks. Maka, akhlak ini ada dua macam yaitu akhlak baik dan akhlak buruk. Sedangkan adab semuanya baik, tidak ada yang namanya adab buruk. Karena adab meliputi berbagai aspek, seperti adab kepada diri sendiri, kepada guru, atau kepada orang lain. Tentunya semuanya berisi dengan sesuatu hal yang baik.

Akhlak yang baik itu dapat terwujud dari kebiasaan, awalnya memang harus dilatih dan dibiasakan. Tentunya kita juga harus tahu terlebih dahulu adab yang benar itu seperti apa agar kita bisa menerapkan itu sehingga kita akan terbiasa dan memiliki akhlak yang mulia. Lantas bagaimana cara kita mempelajarinya? Penulis disini akan berbagi sedikit mengenai cara-cara atau metode dalam belajar adab dari kutipan atau dari artikel yang pernah penulis baca sebelumnya. Berikut beberapa cara mempelajari adab dan akhlak, diantaranya :

1. Belajar adab dengan memperhatikan adab dan kepribadian dari guru kita. Sebagaimana perkataan salah seorang ulama yaitu, Adz-Dzahabi rahimahullahu, beliau berkata :

كان يجتمع في مجلس أحمد زهاء خمسة آلاف – أو يزيدون نحو خمس مائة – يكتبون، والباقون يتعلمون منه حسن الأدب والسمت
Yang menghadiri majelis Imam Ahmad ada sekitar 5000 orang atau lebih. 500 orang menulis [pelajaran] sedangkan sisanya hanya mengambil contoh keluhuran adab dan kepribadiannya.” (Siyaru A’lamin Nubala’ 21/373, Mu’assasah Risalah, Asy-syamilah). Perhatikan bagaimana guru kita mengajar, cara berbicaranya, cara beliau berinteraksi dengan muridnya, cara beliau menjawab pertanyaan dari muridnya. Kita bisa mempelajari itu dari memperhatikan guru kita, maka jika kita ingin mempelajari suatu ilmu kita juga harus memperhatikan adab dan kepribadian guru kita. Karena kita dapat belajar adab dari beliau, kita bisa mencontoh kepribadian dari guru kita dengan cara memperhatikannya. Seperti halnya seorang anak kecil yang mencontoh kebiasaan orang tuanya, misal jika orang tuanya suka bermain hp tanpa sadar hal tersebut terus diperhatikan oleh si anak dan si anak juga akan ikut kecanduan main hp. Berbeda halnya jika kita biasakan di depan anak kita untuk selalu mengucapkan salam ketika masuk rumah misalnya, si anak pasti secara spontan akan terbiasa untuk mengucapklan salam ketika masuk rumah.

2. Belajar adab dengan cara sering mebaca Al-Qur'an dan Hadits Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Karena tentunya kita tahu bahwa Al-Qur'an itu adalah kalam Allah, dan pasti apa yang Allah firmankan itu berisi kebaikan, dari segi penggunaan bahasanya yang santun juga dari segi kandungan makna di dalamnya. Kita bisa belajar berbiacara dengan bahasa yang santun dari Al-Qur'an, selain itu kita bisa mengambil pelajaran adab dan akhlak yang baik dalam isi kandungan Al-Qur'an. Begitu halnya denga  hadits Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, apa yang beliau ucapkan itu tidak berasal dari hawa nafsunya dan tidak juga berasala dari apa yang Allah perintahkan, serhingga tentunya apa yang beliau sampaikan juga berisi kebaikan. Jika kita sering berinteraksi dengan keduanya, mulut kita juga akan terbiasa untuk berbicara yang baik.

Padahal di zaman keemasannya adab menuntut ilmu sangat diperhatikan oleh para ulama. Misalnya:
  1. Datang ke majelis ilmu sebelum pelajaran di mulai bahkan ada yang sampai menginap agar dapat tempat duduk terdepan karena majelis ilmu saat itu sangat ramai
  2. Menghapal beberapa buku (matan/ringkasan isi) sebelum belajar ke ulama. Bahkan beberapa ulama mempersyaratkan jika ingin belajar kepadanya harus hafal dahulu. Misalnya imam Malik yang mempersyaratkan harus hafal kitab hadits yang tebal yaitu Al-Muwattha’.
  3. Menjaga suasana belajar dengan fokus dan tidak bermain-main. Misalnya bermain gadget atau HP atau mengobrol dengan temannya.
Coba cermati kisah berikut ini,dari Ahmad bin Sinan mengenai majelis Abdurrahman bin Mahdi, guru Imam Ahmad, beliau berkata,
كان عبد الرحمن بن مهدي لا يتحدث في مجلسه، ولا يقوم أحد ولا يبرى فيه قلم، ولا يتبسم أحد
Tidak ada seorangpun berbicara di majelis Abdurrahman bin Mahdi, tidak ada seorangpun yang berdiri, tidak ada seorangpun yang mengasah/meruncingkan pena, tidak ada yang tersenyum.” (Siyaru A’lamin Nubala’ 17/161, Mu’assasah Risalah, Asy-syamilah).

3. Mempelajari atau membaca sejarah Islam atau siroh. Bagaimana bisa dengan membaca sejarah kita dapat belajar adab? Tentu bisa, karena dalam sejarah pastinya ada tokoh dan tokoh itu tidak lepas dari watak atau sifat. Kita bisa mencontoh watak protagonis dalam buku sejarah yang kita baca. Bahkan lebih banyak adab yang dapat kita ambil dengan mempelajari sejarah tersebut, karena disitu jelas menggambarkan perjalanan hidup seseorang dari awal hingga akhir. Dalam perjalan hidup tersebut pastilah banyak pengalaman kehidupan yang dilalui oleh tokoh. Selain itu, kita juga bisa mengambil hikmah dari setiap kejadian yang dialami oleh tokoh dalam sejarah tersebut.

4. Mempelajari dan membaca buku-buku mengenai adab dan berusaha mengamalkannya dalam kehidupan kita sehari-hari. Jika hanya membaca saja tanpa pengamalan itu merupakan hal yang sia-sia. Karena kita tidak akan mungkin dengan begitu saja memiliki akhlak yang baik hanya dengan sekali baca, pastinya harus kita amalkan dan kita biasakan agar hal tersebut menjadi tabiat dalam diri kita.

Nah, itulah beberpa tips yang dapat penulis berikan sebagai gambaran untuk kita dan semoga menjadi pacuan bagi diri kita agar terus berusaha menjadi pribadi yang berakhlak mulia. Sekali lagi, penulis mengingatkan untuk kita semua bahwa tentunya hal tersebut tidak akan terwujud jika kita tidak memaksakan diri untuk memiliki akhlak yang mulia. Hal yang perlu diingat juga, bahwa jika kita sudah mampu sedikit membiasakan akhlak mulia itu jangan sandarkan hal tersebut pada diri sendiri. Karena segala sesuatu yang kita lakukan itu atas karunia dari Allah Ta'ala yang telah menolong kita agar bisa berbuat kebaikan.

Jazaakumullahu Khayran wa Barakallahu Fiikum
Semoga ini juga bisa menjadi pengingat bagi penulis saat ini maupun dikemudian hari. 


Jika ada kesalahan dalam penulisan ini mohon untuk diingatkan karena minimnya ilmu yang penulis miliki untuk membuat tulisan ini dan sekiranya ada yang tidak sesuai dengan syariat islam mohon untuk ditinggalkan.



Alhamdulillah, atas izin Allah tulisan ini telah berhasil diselesaikan di Pondok Pesantren Islamic Centre Bin Baz Yogyakarta

https://goresantintaummuumarah.blogspot.com/

Selasa, 24 Desember 2019

Ilmu dan Adab

Ilmu Dulu atau Adab?


Apakah ilmu atau adab yang lebih penting?
Apakah ilmu atau adab yang lebih utama?
Apakah ilmu atau adab yang lebih mulia?

Pertanyaan-pertanyaan semacam ini yang menghantui kepala dan membuat kita stuck dari melangkah karena bingung apa yang seharusnya kita dahulukan. Karena keduanya memang sama-sama penting, ilmu dan adab keduanya membuat kita memiliki kedudukan dan kemuliaan baik di kalangan penduduk bumi maupun penduduk langit. Ilmu yang dimaksutkan disini adalah ilmu agama yang shahih yang bersumber dari Kitabullah dan Sunnah yang shahih, dan tentunya adab yang dimaksut disini juga demikian. Tapi ketahuilah ilmu yang bermanfaat itu yang semakin menambah rasa takut kita kepada Allah, serta akhlak yang mulia itulah yang paling banyak memasukkan seseorang ke dalam surga. Sebagaimana sabda Rasulullah :

أَكْثَرُ مَا يُدْخِلُ اَلْجَنَّةَ تَقْوى اَللَّهِ وَحُسْنُ اَلْخُلُقِ

“Yang paling banyak memasukkan ke surga adalah takwa kepada Allah dan akhlak yang mulia”. (HR At-Tirmidzi, Ibnu Maajah dan Al-Haakim dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani). Sedangkan dalil mengenai ilmu adalah firman Allah Ta'ala (yang artinya): "Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hamba-hamba Nya hanyalah ulama." (QS. Fathir 28). Adapun dari perkataan para ulama, diantaranya adalah Asy Sya’bi,

إنَّمَا الْعَالِمُ مَنْ يَخْشَى اللَّهَ
Orang yang berilmu, itulah yang punya rasa takut pada Allah”. 
Ibnu Taimiyah rahimahullah juga berkata,
وَإِذَا كَانَ أَهْلُ الْخَشْيَةِ هُمْ الْعُلَمَاءُ الْمَمْدُوحُونَ فِي الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ لَمْ يَكُونُوا مُسْتَحِقِّينَ لِلذَّمِّ وَذَلِكَ لَا يَكُونُ إلَّا مَعَ فِعْلِ الْوَاجِبَاتِ
Jika orang yang takut pada Allah adalah para ulama, lalu mereka inilah yang terpuji dalam Al Qur’an dan mereka pun tidak dicela, maka merekalah yang biasa menjalankan kewajiban.” (Majmu’ Al Fatawa karya Ibnu Taimiyah, 7: 21). Beliau Rahimahullaah juga mengatakan, “Ilmu adalah apa yang dibangun di atas dalil, dan ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang dibawa oleh Rasulullah . Terkadang ada ilmu yang tidak berasal dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, tetapi dalam urusan duniawi, seperti ilmu kedokteran, ilmu hitung, ilmu pertanian, dan ilmu perdagangan.”(Majmuu’ al-Fataawaa (VI/388, XIII/136) dan Madaarijus Saalikiin (II/488)).

Penulis disini akan berbagi sedikit mengenai hal tersebut dan semoga tulisan ini dapat memberikan manfaat bagi pembaca sehingga yang tadinya masih stuck karena kebingungan atau semacamnya mulai melangkah meskipun perlahan-lahan. Tentunya tulisan ini juga dibuat untuk mengingatkan penulis yang mana diri ini juga terkadang mengalaminya dan menyadarkan penulis untuk konsisten dengan apa yang sudah dia tulis, karena sejatinya setiap individu itu tidak pernah luput dari kesalahan sehingga dia perlu untuk terus beristighfar serta diingatkan.


Apakah kalian pernah dengar perkataan dari salah seorang ulama terkemuka Abdullah bin Wahab dalam Siyar A’lamin Nubala’ karya Adz Dzahabi disebutkan bahwa,


ما نقلنا من أدب مالك أكثر مما تعلمنا من علمه

Yang kami nukil dari (Imam) Malik lebih banyak dalam hal adab dibanding ilmunya.” 

Nah, dari situ apa yang dapat kita simpulkan? Betapa para ulama salaf terdahulu lebih mengedepankan adab dari pada ilmu, mereka lebih mendahulukan adab dari pada ilmu. Mengapa demikian? Sebagaimana perkataan dari Yusuf bin Al Husain :

بالأدب تفهم العلم

Dengan mempelajari adab, maka engkau jadi mudah memahami ilmu.”
Karena kita jadi mengerti bagaimana adab kita dalam menuntut ilmu, bagaimana cara-cara yang baik dalam menuntut ilmu, bagaimana cara-cara atau adab ketika bersama guru kita, ketika mendengarkan penjelasan guru kita sehingga kita dapat lebih mudah dalam memahami ilmu tersebut. Misalnya saja, ketika kita tidak tau bagaimana cara atau adab ketika mendengarkan penjelasan guru kita sehingga yang kita lakukan adalah berbicara dengan teman, bercanda atau bahkan tidur, apakah dengan seperti itu kita akan mendengarkan apa yang guru kita ucapkan? Jika kita tidak tahu apa yang guru kita ucapkan, lantas bagimana kita bisa memahami ilmunya?



Contoh lain adalah ketika kita tidak tahu adab dalam menghafal Al-Quran, bahwasanya seorang penghafal Al-Quran harus senantiasa memurojaah hafalannya minimal 1 juz perhari misalnya. Kemudian, jika kita tidak pernah memurojaah hafalan kita apakah nantinya kita masih tertap hafal? Justru hafalan yang sudah susah payah kita hafalkan itu akan hilang sia-sia.

Hal lain yang menunjukkan pentingnya mempelajari adab terlebih dahulu dari pada ilmu adalah dalam perkataan Ibnul Mubarok,


تعلمنا الأدب ثلاثين عاماً، وتعلمنا العلم عشرين

Kami mempelajari masalah adab itu selama 30 tahun sedangkan kami mempelajari ilmu selama 20 tahun.” Makhlad bin Al Husain juga berkata pada Ibnul Mubarok,

نحن إلى كثير من الأدب أحوج منا إلى كثير من حديث

Kami lebih butuh dalam mempelajari adab daripada banyak menguasai hadits.”



Apakah kita sudah ada gambaran bahwa adab itu yang harus kita pelajari terlebih dahulu dari pada ilmu? Jika sudah, pasti beberapa dari kita ada yang kebingungan bagiamana ya kita bisa mempelajari adab? Apakah dengan menghafal siang malam sebagaimana halnya ketika kita menghafal Al-Quran dan hadits? Di blog ini nantinya penulis juga akan sedikit berbagi beberapa cara kita untuk dapat mempelajari adab. 


Semoga Allah ﷻ memudahkan penulis untuk melanjutkan tulisannya di kemudian hari. Terimakasih bagi pembaca yang telah membaca tulisan ini hingga selesai. Sekali lagi penulis mengingatkan agar kita tidak malas mebaca sesuatu hingga tuntas, tentunya pesan ini juga di tujukan untuk penulis. Jika ada faedah yang dapat diambil dan segala kebenaran dalam penulisan ini semua datangnya dari Allah , jadi banyak-banyaklah bersyukur kepada Allah. Serta jika ada kekeliruan dan kesalahan dalam penulisan atau pengungkapan itu datangnya dari penulis, sehingga kritik, saran dan nasehat yang membangun sangat penulis harapkan dari para pembaca sekalian.

Jazaakumullahu Khayran wa Barakallhu Fiikum




Alhamdulillah, tulisan ini telah diselesaikan di Pondok Pesantren Islamic Centre Bin Baz Yogyakarta

Senin, 23 Desember 2019

بسم الله الرحمن الرحيم

بسم الله الرحمن الرحيم



Alhamdulillah dengan rahmat Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Dia yang telah memberi petunjuk dan kemudahan kepada hamba-Nya. Serta sholawat dan salam semoga tercurahkan kepada manusia paling mulia sepanjang zaman yakni Nabi kita Rasulullah  ﷺ, melalui beliau Allah menurunkan Al-Qur'an sebagai petunjuk untuk umat manusia. Semoga Allah ﷻ merahmati kalian wahai para pembaca sekalian.

Berkat pertolongan Nya 
ﷻ dan taufik dari Nya ﷻ ana dapat membuat blog ini dan dapat menulis disini. Ana berharap tulisan ini dapat membuka dan menambah wawasan pembaca serta alagkah mulianya jika tulisan ini dapat diambil faedahnya. Segala kebaikan yang ada di dalam tulisan ini adalah berasal dari Allah ﷻ, sedangkan segala kekeliruan dari tulisan ini adalah berasal dari penulis sendiri. 

Tentunya penulis hanyalah seorang fakir ilmu yang masih butuh untuk terus belajar setiap saat. Oleh karena, jika ada kekeliruan di kemudian hari mengenai tulisan di dalam blog ini, saran dan kritik serta nasehat dari kalian sangat berharga. Jika ada hal yang menyimpang atau syubhat yang mungkin tidak sengaja tertulis dalam blog ini, silahkan untuk meninggalkannya dan sekali lagi berikan nasehat kepada sang penulis.

Jazaakumullahu khayr wa barakallahu fiikum